Rabu, 18 Mei 2011

Semburat Cinta Dunia Maya

Aku masih terpasung kelam, menanti kedatanganmu dari sudut khayal. Sesekali kutemukan rekah bibirmu berlarian di teras langit. Aku tahu, ketika itu, kau juga tengah memahat rindu dari kejauhan. Tapi inilah yang mereka sebut kenyataan. Kita dipertemukan dalam kisah yang sungguh sendu. Hingga untuk sebatas menatap saja, terhalang.
Pertemuan kita memang sukar ditakar dengan angka. Bilapun jarum jam yang berputar kelak mampu mempertemukan, itu tidak akan mudah. Kecuali atas kehendak Nya. Sebab hanya Dia yang berkuasa atas segala rasa dan paling mengerti lekuk hatiku sejak awal membaca jiwamu.

Syad, saban hari ku jenguk rindu yang kerap kau kalungkan pada dunia maya. “Teh Tika seharian tidak SMS, baikkah disana?” itu salah satu kau menanamkan keyakinan bahwa kau juga mengingatku.
Sebenarnya sejak awal, aku telah menjatuhkan hati tepat pada hatimu. Entahlah, mungkin ini terdengar sumbang dan berlebihan. Tapi seumpama malam yang tak pernah gamang menopang rembulan, aku juga demikian. Rasanya aku telah siap memilih dan menjaga hatimu.
Syad, aku mencintaimu. Ketahuilah ada kasih yang indah dariku. Kadang, mengingat-ingat senyum yang kau gantung pada wajah rembulan, menggelitik kalbu hingga menumpahkan kelakar sederhana dan senyum merona di parasku. Jangan tanya aku tentang musabab kegilaanku itu. Ya, jangan! Karena aku tidak tahu.
Malam itu, ponsel kecilku berdering. Dengan sigap kucumbui tombol-tombol di dadanya hingga terbuka dan memaparkan pemberitahuan. Dalam hati, aku berharap itu darimu. Tapi lagi dan lagi aku terperangah. Pesan singkat yang masuk, bukan darimu, tapi darinya. Lelaki yang juga pernah menyambangi hatiku. Dia lelaki dari masa laluku yang sebenarnya sampai kini masih memintaku kembali memintal cinta. Sebelumnya aku gusar dalam pilihan yang akupun tak mengerti. Karena dia memintaku, tapi hatiku memintamu. Syad, ini malam aku ingin kau datang dan beri satu kepastian. Sebab renunganku harus berujung.
Wangi shubuh sudah semerbak. Tapi kau belum juga datang. Ah, mungkin kau sudah lindap dalam lelap. Baiklah, akan kulalui malam ini sendiri, menata hati yang sebelumnya porak poranda.
“maaf, aku tak sempat menyapamu tadi malam. Ku tahu, kau masih betah duduk dan memandang wajah di kulit rembulan sembari mendendangkan lagu rindu. Aku telah tersungkur dalam lelap. Tapi kau mesti tahu, bahwa indahmu tetap kubawa dalam mimpi.”
Aku tersentak. Dengan daya yang masih sepertiga, aku mencoba memaknai arti kalimat itu. Kali ini kecewa bukan karibku. Pesan itu benar darimu. Ah, lelaki, kau memang paling bisa menggelitik hatiku.
Semua berjalan hampir sama setiap harinya. Mulai shubuh hingga petang, kita saling berkabar dan menjuntai perhatian lewat kalimat-kalimat singkat. Hingga suatu ketika kau menanam cemburu karena kedekatanku dengan salah satu temanmu. karenanya, aku semakin tahu, kau juga mencintaiku.
Syad, aku telah memilih. Ini tentangmu. Lelaki yang mengajariku merapal hidup dengan tuntunanNya. Tentang kita, dalam dunia maya. Tentangku yang sempat beku dalam kubangan masa lalu. Dan bukan dia. Meski kita bertemu dari jalinan takdir yang masih kutanya-tanya ujungnya.
Ada harap yang tak pernah pupus kugantung pada doaku, semoga kelak kita bertemu dan bersatu dalam nyata dan keabadian syurga.

ditulis oleh : Sartika Sari
Medan, untuk pangeran di kota Kembang


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar