Tampilkan postingan dengan label Pariwisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pariwisata. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Juli 2011

PT. BMA buka trayek baru Makassar-Toraja

Perusahaan jasa angkutan darat PT Bintang Manunggal Abadi Executive Travel (BMA Executive) di Sulawesi Selatan (Sulsel) kini membuka rute atau trayek baru Makassar-Toraja.

BMA saat ini sudah mengantongi izin trayek rute darat tersebut dari Dinas Perhubungan Provinsi Sulsel. General Manager PT BMA Hendro Agussalim menyebutkan, Minggu (17/7/2011), ada lima unit armada BMA yang akan melayani penumpang rute Makassar-Toraja tersebut. Lima kendaraan semi bus adalah Hino Dutro 2010 polesan New Armada, Magelang, Jateng.

Bus tersebut dilengkapi fasilitas full AC dengan kapasitas 15 penumpang. "Kalau bus normal 30 kursi, ini karena travel khusus kita desain jadi 15 kursi," kata Hendro.

Selama perjalanan rute tersebut yang ditaksir menelan waktu delapan jam, penumpang akan diberikan makanan, minuman, dengan tambahan fasilitas kotak pendingin (cool box). "Di dalam bus selama perjalanan ada cafeteria yang menyediakan makanan, minuman, dan snack yang bisa dibeli," tambahnya.

Saat ini ada total 30 armada BMA yang beroperasi di wilayah Sulsel dengan trayek berbeda, yaitu Makassar-Pare Pare (PP), Makassar-Pinrang (PP), Makassar-Bulukumba, dan rute terbaru Makassar-Toraja (PP).

Tarif penumpang rute Makassar-Toraja sebesar Rp 120 ribu, Makassar-Parepare Rp 60 ribu, Makassar-Pinrang Rp 65 ribu, dan Makassar-Bulukumba Rp 65 ribu.

Selain itu, setiap armada BMA tidak lagi menggunakan kernet tetapi seorang pramugara yang bertugas melayani kebutuhan penumpang layaknya sebuah pesawat terbang.

"Pokoknya pelayanan kita berikan sebagaimana pelayanan Pesawat Air Asia," kata Komisaris Utama BMA Executive Budi Herianto dalam acara Grand launching Armada BMA ekslusif di Executive Lounge Hotel Grand Clarion, Makassar, Minggu (17/7)

Sumber : tribun-timur.com

Rabu, 06 Juli 2011

Rp. 35.000/M2 harga ganti rugi lahan basah (Sawah) Bandara Baru Tana Toraja

Sekretaris Daerah Kabupaten Tana Toraja, Enos Karoma yang juga adalah Ketua Tim 9, menegaskan, pemerintah dan masyarakat pemilik lahan lokasi pembangunan bandara baru di Buntu Kunik, Mengkendek sudah mencapai kata sepakat soal harga ganti rugi lokasi pembangunan bandara. Menurut rencana, Pembayaran ganti rugi, baik lahan basah, lahan kering, maupun tanaman produktif yang ada di atas lahan milik warga, akan dibayar ganti ruginya.

“Sudah ada kesepakatan soal itu, mulai pekan ini kita sudah melakukan pembayaran langsung ke rekening masing-masing pemilik lahan,” terang Enos di Makale, kemarin.
Enos menambahkan, untuk lahan basah (sawah) pemerintah akan membayar Rp 35 ribu per meter persegi. Sedangkan untuk tanah kering non sawah yang belum memiliki sertifikat Rp 21.500 per meter. Untuk tanah kering yang sudah bersertifikat harganya naik sepuluh persen dari harga lahan kering yang belum bersertifikat. Untuk tanaman yang ada di atas lahan, pemerintah juga akan melakukan ganti rugi.
“Ada 31 jenis tanaman yang harus kita bayar kepada warga. Harganya bervariasi tergantung jenis tanamannya. Saya lupa kategori harga, yang jelas semua tanaman produktif di atas lahan milik warga akan kita ganti rugi,” terangnya.

Minggu, 03 Juli 2011

Kunjungan Gubernur ke Bandara Baru Toraja



Kasubag Penyaringan Informasi Biro Humas Pemprov Sulsel Badaruddin melalui telepon seluler mengatakan Salah Satu Agenda Kunnjungan Gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo ke Tana Toraja adalah melakukan peninjauan persiapan akhir menjelang pematangan pembangunan Bandara Baru Kab. Tana Toraja, di Dusun Buntu Kunik, Desa Tampo, Kecamatan Mengkendek.

Di lokasi Bandara, Syahrul menegaskan jika keberadaan bandara Buntu Kunik akan mengembalikan citra Sulsel khususnya Toraja sebagai daerah tujuan utama kunjungan wisatawan nasional dan mancanegara.

Ia mengatakan, setelah reformasi, pariwisata Toraja jauh tertinggal dengan Bali disebabkan kondisi infrastruktur khususnya transportasi yang tidak mendukung.

Gubernur mengharapkan, dengan selesainya pembangunan bandara baru senilai Rp600 miliar pada tahun 2013 nanti, kunjungan wisatawan mancanegara ke Toraja akan kembali merangkak naik.

Sementara, Masykur A Sulthan, Kepala Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Sulsel mengatakan sepanjang 2011 pembangunan dilakukan pada pematangan lahan, kemudian dilanjutkan dengan pembangunan konstruksi termasuk landasan pacu di 2012.

Ia mengemukakan pematangan lahan bandara diatas area seluas 225 hektar menghabiskan anggaran sekitar Rp100 miliar.

Masykur Sulthan mengatakan, bandara baru ini memiliki landasan pacu 1.900 meter dengan lebar 35 meter, yang bisa didarati pesawat berkapasitas 100 penumpang.

"Landasan pacu direncanakan selesai 1.500 meter di 2012 dan tuntas seluruhnya di 2013. Kalau ini terealisasi, lebih cepat dari target sebelumnya," jelasnya.

Percepatan pembangunan bandara baru ini, kata dia, untuk mengembalikan kejayaan pariwisata Toraja.

"Kalau ini selesai, terjadi konektivitas daerah tujuan pariwisata. Dari Bali, Jakarta, Jogjakarta, dan Nusa Tenaggara Barat (NTB) yang langsung ke Toraja," ujarnya.

"untuk menuntaskan bandara baru pengganti Bandara Pongtiku menghabiskan anggaran sekitar Rp600 dari APBN secara bertahap." Tutup Masykur


Rabu, 29 Juni 2011

Jumlah kunjungan Wisman ke Toraja 2010 memprihatinkan

Ma' pasilaga tedong, salah satu atraksi budaya Toraja.
Data yang dikutip dari Badan Pusat Statistik (BPS) atas jumlah kunjungan Wisatawan Mancanegara (wisman) ke Tana Toraja Tahun 2010 sangat memprihatinkan. Dari total jumlah wisman ke Indonesia 7.002.944 orang, yang berkunjung ke Toraja hanya 100.017 orang atau hanya 0,71%.

Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Tana Toraja mengungkapkan data tersebut dengan mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS). Dengan melihat kenyataan tersebut, Dominikus Onny Allolinggi, Ketua PHRI Toraja mendesak Bupati Tana Toraja Theofilus Allorerung untuk segera membentuk Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD).

Minimnya promosi pariwisata Kaupaten Tana Toraja menjadi Salah satu kendala yang dihadapi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Toraja dalam menggenjot jumlah kunjungan wisman ke Toraja. “Pariwisata Toraja belum bisa memberikan kontribusi besar terhadap tingkat kunjungan wisman di Indonesia. Pemkab Toraja perlu menggenjot promosi,” ujar Onny saat bertemu Bupati Theofilus Allorerung di Kantor Bupati Toraja.

Keberadaan BPPD di Tana Toraja sangat dibutuhkan, karena telah diketahui bahwa Toraja memiliki destinasi pariwisata yang tidak bisa dijumpai di daerah lain. Apalagi dengan akan segera dibangunnya bandara bertaraf internasional di buntu kunik - Mengkendek. “Pemerintah harus tanggap dengan peluang itu. Jangan sampai bandara internasional sudah siap, tapi tidak ada maskapai penerbangan yang berminat karena promosi wisata daerah kurang,”ujar Onny.

Menanggapi usulan PHRI tersebut, Bupati Toraja Theofilus Allorerung mengatakan, Pemkab Toraja melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Dikbudpar) akan segera membentuk BPPD seperti yang diusulkan PHRI dan berjanji untuk segera membenahi infrastruktur pariwisata. Sekretaris Dikbudpar Toraja Yosiade mengatakan, dana promosi pariwisata Toraja dalam APBD 2011 hanya sekitar Rp50 juta

Senin, 27 Juni 2011

Peserta Munas HDCI menghadiri rambu solo di Tana Toraja

Irjen Pol Johny Wainal Usman, Kapolda SulSel, direncanakan akan melepas peserta Celebes Touring Harley Davidson Club Indonesia (HDCI) trans Makassar-Tana Toraja, di depan Fort Rotterdam. Peserta yang akan mengikuti Trans Makassar - Toraja ini berjumlah sedikitnya 300 peserta.


Rute yang akan dilalui adalah poros Camba, dan dalam perjalanannya peserta akan beristirahat di tiga tempat, yaitu : Cijantung - Camba, Rujab Bupati Wajo, dan Gunung Bambapuang-Enrekang. Rombongan direncanakan akan tiba di bumi lakipadada, Tana Toraja pada sore hari.

pada hari berikutnya, Rabu (29/6) peserta akan mengawali aktivitasnya dengan melakukan city tour ke beberapa tempat wisata terkenal di Tana Toraja sekaligus mempromosikan salah satu objek wisata andalan di Sulsel ini. Usai city tour, semua peserta Munas HDCI baik dari Makassar, Palu, Manado yang sudah lebih awal tiba di Toraja, akan menghadiri pesta pemakaman salah seorang tokoh Tana Toraja.

Ilham Arief Sirajuddin, Ketua HDCI Makassar, saat menggelar welcome party bagi peserta Munas HDCI di Rumahnya mengatakan, pesta pemakaman adat Tana Toraja ini dipastikan meriah. Selain pesta tersebut merupakan adat setempat, pesta “Rambu Solo” ini dikabarkan akan dihadiri sejumlah pejabat dari Jakarta, termasuk Tommy Soeharto.

“Jadi saya kira pesta rambu solo di Toraja ini adalah pesta yang cukup meriah, karena yang akan dipestakan adalah salah seorang tokoh besar di Tana Toraja. Bahkan Tommy Soeharto turut hadir dalam acara tersebut,” kata Ilham.

Usai menyaksikan pesta pemakaman adat salah seorang tokoh di Tana Toraja, malam harinya rombongan akan dijamu makan malam oleh bupati Tana Toraja. Di daerah wisata ini, mereka akan bertemu dengan rombongan lain seperti dari Palu yang lebih awal tiba, Manado, dan peserta lainnya.

Menurut rencana, peserta munas HDCI akan meninggalkan Tana Toraja pada hari Kamis 30 Juni 2011.

“Mudah-mudahan rangkaian acara ini tidak mengalami hambatan, seperti yang dialami teman kita dari Manado yang kabarnya kesulitan bahan bakar,” kata Ilham.

Jumat, 24 Juni 2011

Patenkan Kopi Arabica Toraja

kopi arabika Toraja harus segera dipatenkan dalam produk kemasan skala besar agar keasliannya tidak diklaim oleh daerah atau pihak-pihak lain. Demikian keinginan yang disampaikan Wakil Gubernur Sulsel Agus Arifin Nu'mang.

Keinginan tersebut disampaikan Agus sesaat setelah membuka seminar sehari manfaat kerja sama ASEAN bagi pemasaran kopi Indonesia di Makassar, Kamis (23/6). Menurut Wakil Gubernur, komoditas yang spesifik seperti kopi Toraja menjadi satu-satunya keunggulan Sulsel dalam persaingan di era perdagangan bebas.

"Kita harus punya komoditas spesifik seperti kopi arabika Toraja yang benar-benar asli dari Toraja. Ini pekerjaan rumah kita untuk segera mempatenkannya dalam sebuah produk kemasan," jelasnya.

"selama ini upaya mempatenkan kopi Toraja dalam sebuah produk kemasan telah berjalan di Toraja, namun belum dalam skala besar. Dukungan modal kerja dalam bentuk skim kredit khusus untuk para pedagang lokal juga perlu disiapkan agar para pedagang lokal mampu bersaing dengan para pedagang di luar dan menjadi pengendali pasar."Lanjut Agus Arifin Nu'mang

"Kalau perdagangan dan industrinya kita perbaiki, bahan bakunya kita punya, kita akan mengendalikan pasar," Tutupnya

Bandara Buntu Kunik Mengkendek salah satu proyek prioritas Kemenhub.


Ilustrasi
Pemerintah akan mengalokasikan anggaran sebesar Rp 19,07 triliun untuk membangun sejumlah proyek di sektor transportasi pada 2011. Pembangunan proyek-proyek di sektor transportasi tersebut diarahkan untuk menciptakan keterhubungan atau konektivitas antarwilayah di Indonesia maupun antarnegara di wilayah Asean

Menteri Perhubungan Freddy Numberi mengungkapkan, dana sebesar Rp 19,07 triliun berasal dari pagu Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) 2011 sebesar Rp 22,1 triliun. Pagu DIPA Kementerian Perhubungan (Kemenhub) 2011 naik 19,18% dari DIPA 2010 sebesar Rp 17,87 triliun. Kendati kenaikannya tidak sebesar DIPA Kementerian PU yang melonjak hampir 556%, Kemenhub akan berupaya memaksimalkan dana yang tersedia.

Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub Herry Bhakti Singayudha Gumay mengungkapkan, Tiga bandara baru yang menjadi prioritas di tahun 2011 akan segera dilaksanakan, yakni Mamasa Baru (Sulbar), Toraja Batu (Buntukunik), dan Moa (Maluku Tenggara Barat). Selain itu, dilanjutkan pembangunan 15 bandara, satu di antaranya Bandara Kuala Namu (Medan) yang akan digunakan untuk menghadapi liberalisasi penerbangan Asean (Asean Open Sky) pada 2015

Minggu, 12 Juni 2011

Tana Toraja, salah satu dari 15 Destinasi Unggulan di Indonesia

Tak mau kalah bersaing, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata melakukan terobosan dengan menggagas tata kelola daerah tujuan wisata berlabel DMO. Tidak tanggung-tanggung, 15 destinasi unggulan ditetapkan sebagai cluster untuk dikembangkan dengan model tata kelola yang sukses diadopsi di berbagai penjuru dunia.

Ke-15 cluster DMO tersebut meliputi Kota Tua Jakarta, Pangandaran, Danau Toba, Bunaken, Sabang, Tana Toraja, Borobudur, Rinjani, Raja Ampat, Wakatobi, Tanjung Puting, Derawan, Danau Batur-kintamani, dan Pulau Komodo-Kelimutu-Flores serta Bromo-Tengger-Semeru.

Konsep pengelolaan tersebut diartikan sebagai tata kelola destinasi pariwisata yang terstruktur dan sinergis, mencakup fungsi koordinasi, perencanaan, implementasi, dan pengendalian organisasi destinasi secara inovatif dan sistemik.

Caranya melalui pemanfaatan jejaring, informasi dan teknologi yang terpimpin secara terpadu dengan peran serta masyarakat, pelaku/asosiasi, industri, akademisi, serta pemerintah. Nantinya akan terlihat apa tujuan pariwisata di Indonesia, termasuk meningkatkan kualitas pengelolaan, volume kunjungan wisata, lama tinggal, dan besaran pengeluaran wisatawan serta manfaat bagi masyarakat lokal.

Menggarisbawahi konsep yang telah tercetak dalam buku Pedoman Pembentukan dan Pengembangan DMO yang dikeluarkan Kemenbudpar, setidaknya ada empat subsistem yang saling hubung dan ber singgungan, yaitu destinasi, tata kelola, informasi komunikasi dan teknologi, dan pemasaran. Keempat subsistem itu mau tidak mau harus sebangun dalam pencapaian tujuan DMO.

Ada sebuah catatan penting dalam implementasi program DMO tersebut. Tata kelola tidak hanya semata-mata dipandang sebagai bentuk organisasi dalam pandangan klasik yang mengharuskan adanya bentuk hierarki pembagian tugas secara tegas dengan garis wewenang dan penugasan. DMO sejalan dengan kelahirannya di masa modern yang sarat akan isu-isu globalisasi. Hendaknya DMO dipandang sebagai bentuk peng organisasian pengelolaan destinasi dengan menggunakan pendekatan modern pula, yaitu pemanfaatan jejaring, informasi, dan teknologi. Ada tiga komponen penting dalam, yaitu coordination tourism stakeholders, destination crisis management, dan destination marketing.

Keberhasilan program tersebut sangat mudah diukur dan sangat berdampak pada tiga indikator utama, mulai dari peningkatan volume kunjungan wisata, lama tinggal dan besarnya pengeluaran wisatawan, serta membawa kemanfaatan bagi masyarakat lokal. Kesemua itu ditentukan bagaimana destination marketing dapat menarik sebanyak-banyaknya pengunjung untuk datang ke wilayah yang telah dipromosikan. Banyak persepsi yang hanya memandang destination marketing sebagai bagian terpisah dari DMO. Justru bagian itu menjadi vital dalam memberikan informasi dan menarik minat wisatawan untuk datang ke wilayah tersebut. Dengan kata lain, percuma saja telah membangun kesadaran kolektif di antara stakeholders destinasi, membangun kawasan lebih baik, tetapi informasi tentang semua itu tidak dijalankan. Ketiga komponen tersebut haruslah berjalan secara bersama, dan bahu-membahu dengan saling dukung serta saling melengkapi.

Sabtu, 04 Juni 2011

Singapura akan menjadikan Sulsel sebagai salah satu destinasi kunjungan wisata utama di Indonesia

Syahrul Yasin Limpo, Gubernur Sulsel memimpin jajaran Muspida Sulsel mempertegas posisi Sulsel sebagai salah satu lokomotif baru perekonomian di Indonesia. Syahrul menyampaikan hal tersebut saat roadshow di tiga kementrian Singapura; Menteri Luar Negeri, Menteri Kesehatan dan Menteri Perdagangan.

Singapura akan menjadikan Sulsel sebagai salah satu destinasi kunjungan wisata utama di Indonesia. Demikian salah satu hal penting yang dicapai dalam kunjungan tersebut. selain hal itu komitmen ekspor pertanian dan bahan makanan dari Sulsel juga menjadi bagian yang berhasil dicapai dari kegiatan roadshow yang dilakukan PemProv. Sulawesi Selatan tersebut.

"Paling meyakinkan adalah destinasi wisata. Kapal pesiar Cruz milik Singapura adalah terbesar di dunia. Singapura memberi jaminan Sulsel sebagai destinasi utama tahun ini. Mereka siap mengutus stagnya untuk membicarakan ini lebih teknis," kata Syahrul usai bertemu dengan Menteri Perdagangan Singapura, Kamis, 2 Juni.

"Kita sedang matangkan ini. Kita mau bukan cuma hub penerbangan, tapi kita juga mau menjadi hub di perhubungan laut dan juga kesehatan tentunya," papar Syahrul saat memberi keterangan pers usai pertemuan.

Menteri Luar Negeri Singapura yang baru saja terpilih dua bulan lalu memberi respons positif. Malah dia mengatakan, sepanjang itu tidak dilarang pemerintah Indonesia, Singapura akan menjadi negara pertama yang bersedia membuka hubungan laut dengan Pelabuhan Makassar.

Agenda terakhir digelar di Kantor Group South East Asia Group (kontak dagang kawasan Asia Timur). Pertemuan dalam bentuk dialog dagang tersebut dihadiri sejumlah pengusaha Singapura yang umumnya adalah merupakan anggota Kadin negara tersebut.

Pertemuan tersebut membahas potensi perdagangan di Sulsel yang bisa masuk ke Singapura. Syahrul mengatakan, seluruh komoditas yang dibutuhkan di Singapura, tersedia di Sulsel. Seperti kakao, jagung, hingga hasil laut.

"Dengan adanya penerbangan rute Makassar-Singapura dan sebaliknya, maka hubungan perdagangan juga lebih mudah," ujarnya.

Tidak hanya itu, Syahrul juga melakukan promosi investasi ke Internasional Entreprise Singapore Group. "Kami punya semuanya, silakan pilih yang spesifik. Jadikan Sulsel sebagai negara kedua kalian," tantang Syahrul.

Sementara, pelaksana tugas Kepala Dinas perindustrian dan Perdagangan Sulsel Andi Murny Amien Situru mengatakan, semakin banyak industri yang masuk di Sulsel, maka pertumbuhan perekonomian semakin baik. Dalam pertemuan itu, salah satu industri pengolahan air juga menyatakan keinginannya menjajaki potensi di Sulsel.

Toraja Favorit
Sebelumnya, rombongan juga menggelar dialog di Kantor Kedutaan Besar RI untuk Singapura. Pelaksana Tugas Kenssy D Ekaningsi menerima rombongan didampingi sejumlah pengusaha, biro perjalanan dan pengusaha lain.

Mencuat dalam dialog ini pemerintah Singapura meminta Sulsel memperbaiki infrastruktur jalan menuju Tana Toraja jika memang mau menjadi destinasi wisata asal Singapura. Jika ini terwujud, bukan mustahil jika aliran dolar asal Singapura semakin deras masuk ke Sulsel.

Usulan itu dikemukakan Ketua Asosiasi Biro Perjalan Wisata Singapura, Any Untung. Menurut dia, Tana Toraja adalah destinasi wisata paling menarik karena menjual kultur atau budaya. Sayang, infrastrukur menuju daerah itu sangat sulit.

"Kami harus menempuh perjalanan sembilan jam, dan itu bukan suatu pilihan yang cocok untuk bersantai. Kalau pemerintah Sulsel memperbaiki itu, maka kami bisa mengevakuasi wisatawan ke sana," kata Any Untung yang mengaku warga keturunan Sulsel.

Jumat, 03 Juni 2011

2012, Pekerjaan Pembangunan Konstruksi Bandara Baru Tana Toraja di Mulai

Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Sulawesi Selatan Masykur A Sulthan di Singapura, Jumat (3/6). mengatakan "Pekerjaan Pembangunan Konstruksi Bandara baru di Mengkendek Kabupaten Tana Toraja akan dimulai pada 2012."

"Pemenang tendernya sudah ditetapkan oleh Kementerian Perhubungan. Ditargetkan penyelesaian lahan rampung pada 2011, sehingga kita bisa lanjutkan dengan pembangunan konstruksi pada 2012," ujarnya.

Pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten menyediakan lahan pembangunan bandara sementara anggaran pembangunan konstruksi sekitar Rp200 miliar melalui APBN-perubahan 2011.

"Lahan memang menjadi kendalanya selama ini dan telah ditangani oleh bupati. Kita tinggal cari waktu yang baik dengan warga setempat untuk memulai melakukan pengerjaannya," katanya.

Bandara baru Toraja ini dibangun di Kecamatan Mangkedek dengan total lahan seluas 225 hektare dan runway dua arah sepanjang 1.900 meter sehingga telah dapat melayani pesawat berkapasitas 100 kursi.

"Total anggaran pembangunan lebih dari Rp500 miliar dengan anggaran patungan bersama pemerintah provinsi kabupaten serta pemerintah pusat. Anggaran pembangunan terminal juga terdiri dari APBN dan APBD," jelasnya. Soal siapa yang akan mengelolanya baru akan ditentukan setelah pembangunannya rampung.

Kehadiran bandara baru ini akan menjadi penghubung dari seluruh daerah tujuan wisata nasional ke Tana Toraja.

Serta melengkapi enam bandara perintis yang telah beroperasi selama ini yaitu di Kabupaten Selayar, Toraja Utara, Luwu, Luwu Utara, Bone yang juga akan beroperasi tahun ini serta satu bandara perintis milik swasta di Luwu Timur.

Kepastian mengenai pembangunan bandara Toraja baru ini, sekaligus menjawab keinginan para wisatawan baik domestik maupun mancanegara yang merasa perjalanan wisata ke Tana Toraja terlalu jauh karena memakan waktu sekitar 8 jam melalui darat dari Kota Makassar.

Seperti pengalaman yang pernah dirasakan perwakilan Singapore Malay Chamber of Commerce and Industry (SMCCI), Junaidah Binti Tarjo.

Kepada Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo, ia mengungkapkan, bahwa ia sangat ingin kembali mengunjungi Tana Toraja namun perjalanan yang ditempuh ia rasakan terlalu jauh.

"Sangat cantik, hotel bagus dan makanannya sangat enak, kita mau ke sana lagi tapi jaraknya membuat kita berpikir. Diharapkan, ada transportasi yang lebih cepat seperti pesawat," ujarnya yang pada Maret 2011 lalu mengunjungi Sulsel bersama ratusan wisatawan Singapura lainnya.

Gubernur menanggapi hal ini dengan mengatakan, bahwa saat ini terdapat pesawat berkapasitas 30 penumpang dengan jarak tempuh sekitar satu jam dari Makassar.

"Sementara ini kita sedang dalam proses pembangunan bandara baru. Selain itu, pemprov juga telah melakukan pembicaraan dengan Bandara Internasional Changi Singapura untuk membuat paket wisata ke Sulsel," jelasnya

Jumat, 27 Mei 2011

Bandara Buntu Kunik Hubungkan Toraja-Bali

Pembangunan Bandara baru, di Buntu Kunik Kecamatan mengkendek Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan (Sulsel) akan membuka akses wisatawan dari Bali ke Tana Toraja, Toraja Utara, dan daerah sekitarnya.

"Jika bandara ini sudah beroperasi, maka akan ada 'round trip' atau rute perhubungan udara yang menghubungkan Bali-Toraja-Luwu Timur-Palu-Balikpapan. sehingga diharapkan Pemerintah harus mendukungnya," kata anggota Komisi E DPRD Sulsel, Paulus Tandiongan, di Makassar, Jumat.

Menurut dia, seluruh travel yang beroperasi di Sulsel, Sulteng, dan Kaltim akan mendorong adanya rute penerbangan untuk mengembalikan kejayaan di bidang pariwisata khususnya di Toraja.

Politisi PDS Sulawesi Selatan dan Mantan Direktur Toraja Top Travel yang pernah ikut berkecimpung dalam dunia pariwisata Tana Toraja ini yakin, kunjungan wisatawan lokal dan mancanegara ke Tana Toraja akan meningkat pesat saat round trip tersebut dibuka.

Jalur penerbangan pulang-pergi di lima kota dan empat provinsi tersebut digagas dengan maksud agar jalur transportasi ke Tana Toraja tidak merugi yang disebabkan oleh karena hanya melayani satu daerah penerbangan.

Menurut Paulus, selama ini wisatawan enggan mengunjungi Tana Toraja karena jarak yang cukup jauh, yang akan menghabiskan 8 jam perjalan dari ibu kota Propinsi Sulawesi Selatan, Makassar. yang mengakibatkan peningkatan cost perjalanan bagi wisatawan yang akan berkunjung ke Tana Toraja.

Di bawah kepemimpinan Gubernur Syahrul Yasin Limpo Pemprov Sulawesi Selatan berusaha mengembalikaan kejayaan pariwisata di Sulawesi Selatan dengan membentuk tiga tujuan pariwisata, salah satunya ke Tana Toraja.

Pada perayaan "Lovely Desember" yang lalu di Toraja Utara, Syahrul meminta kepada Dirjen Kementerian Perhubungan dan Dirjen Kementerian Pariwisata yang hadir saat itu, untuk secepatnya merealisasikan pembangunan bandara baru di Buntu Kunik sebagai pengganti bandara Pongtiku yang terlalu sempit.

Sebelumnya, Kepala Dinas Perhubungan, Komunikasi, dan Informatika (Dishubkominfo) Sulsel, Masykur Sulthan, mengatakan, pembangunan bandara itu menelan biaya Rp500 miliar dan ditargetkan selesai paling lambat pada 2013.

"Untuk menjadi bandara pariwisata, diperlukan adanya renovasi fisik, di antaranya memanjangkan landasan dari 1.300 meter menjadi 1.900 meter, bahkan bisa mencapai 2.500 meter supaya pesawat besar bisa mendarat," katanya. (*)

Jumat, 20 Mei 2011

pengembangan wisata rohani berupa patung raksasa Kristus di Burake menelan biaya milyaran rupiah

Pembangunan patung raksasa Kristus yang rencananya akan dibangun di Buntu Burake diperkirakan akan menelan biaya hingga milyaran rupiah. Dana tersebut diharapkan berasal dari perantau Toraja yang sukses.
Rencana pengembangan wisata rohani berupa patung raksasa Kristus tertinggi di dunia tersebut mendapat apresiasi yang tinggi dari kepala Bappeda Kab. Tana Toraja, Bapak DR, Ir, Yunus Sirante, MSi.
“Terlebih sejalan dengan rencana dibangunnya objek pendukung anak tangga sebanyak 7.777 yang diangkat dari sejarah “Aluk Sanda Pitunna”. Diharapkan akan membuat para perantau Toraja akan ikut berpartisipasi menanamkan sahamnya. Jelas Yunus Sirante.
Patung Raksasa Kristus tersebut akan mencapai ketinggian hingga 40 meter, yang diangkat dari sejarah 40 tahun perjalanan bangsa Israel.